Oleh: Syamsudin Olii
“Binadou Yes.” Satu kalimat pendek yang pernah mengguncang jalanan lengang antara Boroko dan Bintauna, saat papan-papan kayu bertuliskan slogan itu berdiri sebagai Lambang Persatuan dan semangat rakyat pinggiran,Bukan sembarang papan. Ia lahir dari kemarahan, tumbuh dari kesadaran, dan bertahan dari hasrat perubahan.-

Saya masih ingat betul bagaimana papan pertama itu dirakit: di somil milik Bapak Amir Alamri dan Hi. Mohamad Alhamid. Dicoret dengan kuas seadanya oleh Tawakal Lalisu, Taha Lasimpala, dan Suma Nahumpang,Di tengah keterbatasan, kami percaya tak ada perjuangan yang kecil bila keyakinan rakyat yang menyulutnya.-

Kami bukan barisan yang punya anggaran atau backing elite. Kami hanya punya satu modal: kesadaran kolektif, bahwa tanah kami bukan pinggiran. Maka, pada satu malam sunyi, dengan kendaraan layanan Pelanggan PLN Boroko (L.300) Bung Nafis Tahir, Syamsudin Olii, Mochtar Madjid, Abdul Gias Pulumoduyo, Marwan Maloho—bergerak mendistribusi papan-papan Binadou yes ” itu ke kecamatan Pinogaluman, Bolangitang, hingga Bintauna. Pemasangan dilakukan diam- diam dalam gelap malam sunyi menggigil kedinginan,-Namun, harapan sering diuji dengan penghinaan. Papan-papan yang kami pasang dengan semangat, pagi harinya sudah hilang, dicabut, bahkan dirusak. Ada yang mencoret “Binadou Yes” menjadi “Binatang Dou Yes”. Sebuah penghinaan yang bukan hanya menyasar kata, tapi juga menampar harga diri rakyat yang ingin merdeka dari pemarjinalan.

Amarah itu nyata, pedang Samurai imajiner seolah menyatu dengan aspal percikan api semangat membakar jiwa kami melawan kebutaan hati para penentang, Tapi kami tidak membalas dengan kekerasan. Kami menyalurkan amarah menjadi gerakan. Menggalang dana recehan dari mengumpul botol-botol kosong,menjual kelapa biji dan di jual,menyisir gang dan lorong,bahkan mengajak para pemabuk untuk sadar, ini perjuangan semua, bukan hanya segelintir orang semata,-

Kami tidak menuntut belas kasih di Kabupaten Binadou—sekarang Bolaang Mongondow Utara—bukan hasil kompromi politik, melainkan buah dari keringat, darah, dan air mata rakyat. Tapi yang menyakitkan adalah saat semangat itu, yang menyala, nyala ,seperti abu yang ditiup angin. Padam perlahan, tergerus oleh “kuis panggung” Sang penguasa, oleh jual beli pengaruh dalam pasar politik (pilkada),-

“Kita lupa,tanah ini lahir dari luka. Dari diskriminasi pembangunan, dari ketimpangan distribusi anggaran, dari keterisolasian yang tak pernah dianggap penting oleh pusat kekuasaan. Kita ingin merdeka—bukan hanya secara administratif, tapi juga secara martabat.
Kini, saat jalan-jalan mulai mulus dan kantor-kantor pemerintah megah berdiri, saya bertanya: di mana semangat Binadou Yes itu? Apakah ia tinggal menjadi nostalgia yang digantung di dinding kantor bupati? Ataukah kita masih bisa merawatnya, bukan sebagai kenangan, tapi sebagai sikap, “Senses Of Belonging and Sense Of Crisis,-
Karena sejarah hanya akan bermakna bila kita terus merawat ingatan. Dan Binadou Yes “bukan sekadar slogan. Ia adalah semangat yang tak boleh mati ,walaupun legenda Komadan Samurai Laskar Binadou Telah Pergi selama lamanya,Alm.Nafis Tahir(Om Ece),

[P3BMU Corner]











