BOROKO,FORKOTNews– Dampak kemarau panjang akibat fenomena El Nino mulai mengganggu aktivitas pendidikan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara).
Suhu panas ekstrem yang melanda beberapa pekan terakhir, diperparah kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), membuat kualitas udara memburuk. Kondisi ini memaksa sejumlah sekolah mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring demi menjaga kesehatan siswa.
Situasi tersebut memicu desakan dari para orang tua wali murid. Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Boltara mengeluarkan kebijakan resmi untuk mempersingkat jam belajar mengajar di semua jenjang pendidikan se-Boltara.
Permintaan itu bukan tanpa alasan. Paparan suhu panas langsung di jam siang dinilai berisiko menyebabkan gangguan kesehatan seperti dehidrasi, pusing, hingga ISPA akibat kabut asap bagi anak-anak sekolah.
Menanggapi aspirasi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Boltara, Supriadi Goma, S.Pd.I, menyatakan akan segera mengambil langkah strategis.
“Terkait aspirasi orang tua wali murid ini, saya akan segera berkoordinasi dengan seluruh kepala sekolah untuk membahas bersama kebijakan pelaksanaan proses belajar mengajar,” kata Supriadi saat dikonfirmasi, Selasa (29/9/2026)
Menurutnya, pemerintah memahami bahwa kondisi cuaca saat ini tidak normal dan berpotensi mengganggu kesehatan peserta didik.
“Sebagai Kepala Dinas Pendidikan Boltara, saya akan mengambil langkah-langkah strategis untuk menindaklanjuti aspirasi para orang tua murid,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Pendidikan Boltara masih menggodok skema penyesuaian jam belajar, di antaranya wacana masuk lebih pagi dan pulang lebih cepat untuk menghindari puncak suhu panas.**
(Suharto Harundja)










